ANDITA
PALUPI
15/379697/PN/14151
MANAJEMEN
SUMBERDAYA PERIKANAN
Abstrak
Praktikum ini bertujuan mengetahui cara
pengukuran debit air dengan berbagai macam metode; mengetahui cara menghitung
debit air; dan membandingkan metode yang lebih efektif dalam pengukuran debit. Praktikum
dilakukan di selokan kolam Perikanan Universitas Gadjah Mada pada tanggal 9
September 2016. Pada selokan besar diukur debit airnya dengan menggunakan Embody’s Float Method diperoleh hasil 8.847
x 10-3 m3/s dan pada selokan kecil diperoleh hasil 12.93
x 10-3 m3/s. Pada saat diukur dengan Rectangular Weir Method diperoleh hasil debit selokan besar sebesar
1.904 x 10-3 m3/s dan selokan kecil sebesar 21.16 x 10-3.
Pada saat diukur dengan 90° Triangular Notch Weir Method diperoleh hasil debit selokan besar
sebesar 1.027 x 10-3 m3/s dan selokan kecil sebesar 0.396
x 10-3 m3/s. Dari percobaan yang telah dilakukan didapat
kesimpulan bahwa metode yang efektif untuk selokan besar yaitu Embody’s Float Method dan untuk selokan
kecil yaitu 90° Triangular Notch Weir Method.
Kata
kunci: arus, debit, kolam, metode, selokan
Pengantar
Air adalah media tempat semua organisme air
yang merupakan elemen dasar penyusun dari tumbuhan dan binatang. Air juga
merupakan medium tempat terjadinya reaksi kimia baik didalam maupun diluar
organism hidup. Penentuan debiat air sungai diperlukan unuk mengetahui besarnya
air yang mengalir dari sungai ke laut. Dalam penentuan debit air sungai perlu
diketahui luas penampangnya yaitu dengan mengukur kedalaman dan lebar
masing-masing titik pengukuran. Arus dan debit merupakan suatu gerakan air
yyang mengakibatkan perpindahan horizontal massa air. Arus dapat menyebabakan
terjadinya kerusakan fisik pada sungai atau selokan seperti pengikisan daratan,
perpindahan sedimen dan lain sebagainya (Hadiwigeno,1990).
Debit air adalah laju aliran air yang
melewati suatu penampang melintang sungai/aliran air per satuan waktu. Di dalam
satuan SI, besar debit dinyatakan dalam satuan m3/detik. Pergerakan
air sangat ditentukan oleh intensitas hujan dan lamanya hujan, topografi bentuk
dan kemiringan lereng, karakteristik geologi terutama jenis dan struktur tanah,
keadaan vegetasi, serta faktor manusia. Pengukuran debit air dapat dilakukan
dengan mengukur volume aliran sungai, menentukan luas penampang sungai,
menggunakan bahan kimia (pewarna) yang dialirkan dalam aliran sungai, atau
dengan membuat bangunan pengukur debit seperti weir (aliran air lambat) atau flume
(aliran air cepat). Arus sungai memiliki kecepatan yang berbeda-beda, baik dari
hulu ke hilir maupun dari waktu ke waktu. Debit air dan arus sungai saling
mempengaruhi pada suatu ekosistem sungai. Pemilihan lokasi pengukuran debit air
sebaiknya dilakukan di bagian aliran perairan yang lurus, tidak ada tumbuhan,
jauh dari percabangan sungai (Asdak, 1995).
Pengukuran debit air sangat memiliki peranan
yang penting dalam dunia perikanan atau pemanfaatan perairan. Melalui
pengukuran debit air maka dapat diketahui kemampuan perairan untuk menyuplai
air untuk kebutuhan mahkluk hidup seperti manusia, maupun hewan dan tumbuhan.
Didalam dunia perikanan memiliki peran yang setrategis dimana air adalah
komponen utama dalam budidaya perikanan.
Metode
Praktikum
ini dilaksanakan di selokan besar dan selokan kecil kolam perikanan Universitas
Gadjah Mada pada hari Jum’at tanggal 9 September 2016 pada pukul 15.00 WIB
sampai dengan pukul 16.00 WIB. Pengukuran debit air menggunakan Embody’s Float Method, Rectangular Weir Method, dan 90° Notch Weir Method.
Pada
Embody’s Float Method, alat yang
digunakan adalah bola pingpong, meteran, penggaris, dan stopwatch. Bola pingpong dihanyutkan dari titik awal hingga titik
akhir pada jarak yang telah ditentukan. Waktu diukur dengan stopwatch, lalu dicatat dan dilakukan
tiga kali pengulangan. Kemudian mengukur lebar selokan (W), kedalaman (D), dan
ditentukan konstanta dari materi dasar saluran (0,8 = berbatu, 0,9 = berpasir).
Debit air dihitung dengan menggunakan rumus;
dengan R merupakan debit air (m3/s); W merupakan
rata-rata lebar muka air (m); D merupakan rata-rata kedalaman (m); A merupakan konstanta;
L merupakan jarak yang ditempuh bola pingpong (m); dan T merupakan waktu yang
dibutuhkan bolah pingpong menempuh jarak yang ditentukan.
Metode
kedua yang digunakan adalah Rectangular
Weir Method. Cara kerja dengan metode ini adalah dengan membendung air
dengan bendungan khusus yang memiliki celah persegi panjang sehingga air akan
melewati celah tersebut. Selanjutnya, ditentukan posisi bendungan/weir yang
akan digunakan. Kemudian, air diukur tingginya dimulai dari awal celah persegi
panjang (H). Langkah akhir adalah mengukur lebar celah persegi panjang (L).
Setelah semua data telah dikumpulkan, lalu debit air dapat dihitung dengan
rumus Q = 3,33 x H3/2 (L - 0,2H), dengan Q merupakan debit air (m3/s);
H merupakan tinggi weir (m); dan L
merupakan lebar weir.
Setelah menggunakan kedua metode sebelumnya, debit air kembali dihitung dengan menggunanakan 90º Triangular Notch Weir Method. Bentuk bendungan yang digunakan pada metode ini mirip dengan menggunakan Rectangular Weir Method, akan tetapi celahnya berbentuk segitiga dengan sudut 90º. Mengukur debit air dengan metode ini hanya perlu membendung aliran air dengan bendungan khusus 90º Triangular Notch Weir dan menghitung ketinggian air (H) selanjutnya dihitung dengan rumus Q = 2,54 x H5/2, dengan Q merupakan debit air (m3/s) dan H merupakan tinggi weir (m).
Hasil dan Pembahasan
Hasil
Hasil
Tabel
1. Hasil Pengamatan Pengukuran Debit Air Selokan Besar dan Selokan Kecil Kolam
Perikanan UGM
Saluran
|
Embody's
Float (m3/s)
|
Rectangular
(m3/s)
|
Triangular
(m3/s)
|
I
(besar)
|
7.602 x
10-3
|
1.52 x
10-3
|
1.41 x
10-3
|
11.8 x
10-3
|
2.134 x
10-3
|
1.09 x
10-3
|
|
7.14 x
10-3
|
2.05 x
10-3
|
0.58 x
10-3
|
|
Rerata
|
8.847 x
10-3 ± 0.00256
|
1.904 x
10-3 ± 0.01129
|
1.027 x
10-3 ± 0.002183
|
II
(kecil)
|
13.3 x
10-3
|
7.125 x
10-3
|
0.157 x
10-3
|
12.9 x
10-3
|
22.9 x
10-3
|
1.02 x
10-3
|
|
12.59 x
10-3
|
33.45 x
10-3
|
0.0251
x 10-3
|
|
Rerata
|
12.93 x
10-3 ± 0.000356
|
21.16 x
10-3 ± 0.0132
|
0.396 x
10-3 ± 0.00054
|
Pembahasan
Menurut Asdak (1995), debit aliran adalah laju aliran air yang melewati suatu penampang melintang sungai persatuam waktu. Dalam satuan meter per detik atau liter per detik. Debit air juga dapat diartikan sebagai volume air yang mengalir kesuatu titik tiap satuan luasnya. Praktikum pengukuran debit air dilakukan untuk mengetahui cara mengukur debit air dengan beberapa metode dan mengetahui cara perhitungan debit air. Debit air dipengaruhi oleh bentuk saluran air, kondisi dasar perairan, ukuran saluran air, dan kemiringan bidang lahan. Semakin besar ukuran batu dasar dan semakin banyak curah hujan, semakin cepat pengukuran air, semakin kuat, dan kecepatan arus cepat, sehingga dapat mempengaruhi debit air (Cholik, 1991).
Menurut Asdak (1995), debit aliran adalah laju aliran air yang melewati suatu penampang melintang sungai persatuam waktu. Dalam satuan meter per detik atau liter per detik. Debit air juga dapat diartikan sebagai volume air yang mengalir kesuatu titik tiap satuan luasnya. Praktikum pengukuran debit air dilakukan untuk mengetahui cara mengukur debit air dengan beberapa metode dan mengetahui cara perhitungan debit air. Debit air dipengaruhi oleh bentuk saluran air, kondisi dasar perairan, ukuran saluran air, dan kemiringan bidang lahan. Semakin besar ukuran batu dasar dan semakin banyak curah hujan, semakin cepat pengukuran air, semakin kuat, dan kecepatan arus cepat, sehingga dapat mempengaruhi debit air (Cholik, 1991).
Praktikum
debit air dilakukan dengan 3 metode yaitu Embody’s
Float Method, Rectangular Weir Method,
dan 90o Triangular Notch Weir
Method, hasil yang diperoleh pada Saluran I (besar) menggunakan Embody’s
Float Method adalah 8.847 x 10-3 m3/s
dan pada Saluran II (kecil) hasil yang diperoleh adalah 12.93 x 10-3 m3/s. Hasil didapat dari tiga
kali ulangan pada beberapa faktor yang mempengaruhi besar perhitungan debit
air. Beberapa faktor tersebut seperti kedalaman (D). Dari ketiga ulangan pada
setiap saluran terjadi perbedaan kedalaman yang dapat disebabkan karena
perbedaan ketinggian dasar perairan saluran pada bagian tepi serta tengah pada
saluran, sehingga pada saat diukur mengakibatkan terjadinya perbedaan hasil
pengukurannya. Kemudian faktor waktu tempuh bola pingpong juga terjadi
perbedaaan nilai T pada ketiga ulangan pada setiap laporan disebabkan karena
perbedaan lama tempuh pelampung (bola ping pong) yang dikarenakan faktor aliran
angin serta faktor-faktor penghambat laju aliran airnya seperti arah angin atau
keberadaan limbah pada saluran tersebut, sehingga dilakukan tiga kali ulangan
pada metode ini adalah agar data yang diperoleh lebih akurat. Konstanta yang
digunakan bernilai 0,8 karena dasar salurannya adalah berbatu/berkerikil.
Metode
yang digunakan selanjutnya adalah Rectangular
Weir Method, dan 90o Triangular
Notch Weir Method. Hasil yang diperoleh pada Saluran I (besar) dengan Rectangular Weir Method adalah 1.904 x 10-3 m3/s dan dengan 90o
Triangular Notch Weir Method adalah 1.027 x 10-3 m3/s , sedangkan
pada Saluran II (kecil) diperoleh hasil berturut-turut dengan Rectangular Weir Method dan 90o
Triangular Notch Weir Method adalah 21.16 x 10-3 m3/s dan 0.396 x 10-3 m3/s . Hasil
tersebut diperoleh dari tiga kali pengulangan pada pengukuran ketinggian weir (H) yang berbeda-beda pula.
Terjadinya perbedaan nilai H pada masing-masing ulangan tiap saluran disebabkan
karena perbedaan ketinggian dasar perairan pada bagian tepi saluran serta
bagian tengah pada saluran sehingga pada pada saat diukur mengakibatkan
terjadinya perbedaan antara hasil pengukuran debit air dengan menggunakan
ketiga metode tersebut.
Apabila
dibandingkan dari ketiga hasil pengukuran debit air dengan menggunakan metode
tersebut, Embody’s Float Method memiliki
cara pengukuran paling sederhana karena pada saat praktikum ada dua saluran
yang berbeda, yang pertama pada Saluran I (besar) berupa sungai/kali dan
Saluran II (kecil) berupa selokan, sehingga jika menerapkan Rectangular Weir Method dan 90o
Triangular Notch Weir Method pada
saluran sungai yang besar akan diperoleh hasil yang tidak efektif dikarenakan
faktor efisiensi alat yang digunakan (weir),
serta faktor ekonomi pembuatan weir
yang besar untuk mendukung sungai yang besar tidak efisien. Oleh karena faktor
efisiensi alat, Rectangular Weir Method
dan 90o Triangular Notch Weir
Method lebih cocok digunakan pada saluran air yang lebih kecil, meskipun 90o
Triangular Notch Weir Method akan lebih
efektif digunakan daripada Rectangular
Weir Method karena faktor kesalahan
yang didapat cenderung lebih kecil. Oleh karena itu metode yang efektif untuk
Saluran I (besar) adalah Embody’s Float Method,
sedangkan untuk Saluran II (kecil) adalah 90o Triangular Notch Weir Method (Uktosely, 1991).
Dari
masing-masing pengukuran pada setiap saluran terdapat perbedaan besar nilai
debit air pada masing-masing metode. Pada Embody’s
Float Method nilai debit air Saluran I (besar) sebesar 8.847 x 10-3 m3/s. Sedangkan
pada Saluran II diperoleh hasil 12.93 x 10-3
m3/s. Terjadinya perbedaan besar debit air disebabkan karena
perbedaan pada lebar muka air, kedalaman, serta waktu tempuh pelampung pada
masing-msing saluran. Semakin besar nilai lebar muka air,kedalaman semakin
besar nilai debit airnya. Kemudian perbedaan lama waktu tempuh pelampung (bola
pingpong) pada Saluran II yang lebih kecil daripada Saluran I, hal ini dapat
disebabakan karena pengaruh aliran angin sehingga laju pelampung bisa
berubah-ubah setiap waktu dan bisa mengakibatkan perbedaan kecepatan laju
pelampung pada masing-masing saluran. Selanjutnya perbedaan besar nilai debit
air pada Saluran I dan II yang menggunakan Rectangular
Weir Method disebabkan karena lebar dan ketinggian weir pada saat dimasukkan kedalam air pada masing-masing saluran
berbeda-beda, begitupun pada metode 90o Triangular Notch Weir Method, ketinggian weir pada saat masuk di dalam air pada Saluran I lebih pendek
dibandingkan Saluran II, hal ini desebabkan karena tingkat kekerasan dan
ketebalan lumpur pada dasar perairan yang berbeda menyebabkan tinggi weir pada saat dimasukkan kedalam
saluran menjadi berbeda. Selain itu, dari kedua saluran masing-masing saluran
hasil yang diperoleh antara Rectangular Weir
Method dan 90o Triangular
Notch Weir Method berbeda walaupun pengambilan data diperoleh di lokasi
yang sama. Hal ini dikarenakan banyaknya air yang lolos ketika dibendung
menggunakan dan 90o Triangular
Notch Weir sehingga nilai debit airnya kecil. Namun dari kedua saluran
tersebut berdasarkan dari masing-masing hasil data pengukuran metode yang
sama-sama paling efektif pada kedua saluran kecil tersebut adalah 90o
Triangular Notch Weir karena memiliki
perhitungan yang lebih teliti daripada Rectangular
Weir Method ataupun Embody’s Float
Method. Selain itu dalam metode 90o Triangular Notch Weir dalam pengambilan datanya hanya mengambil
data tinggi air pada saat dimasukkan weir
tanpa lebar, hal ini dapat meminimalkan kesalahan (Effendy, 2003).
Pengukuran
debit air menggunakan metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada Embody’s Float Method, kelebihannya
yaitu pengukuran yang paling sederhana sehingga dapat dilakuakan setiap orang serta
hanya memerlukan alat yang sederhana yaitu bola pingpong, stopwatch dan meteran. Hal ini yang menjadikan pengukuran debit air
dengan menggunakan metode ini dapat diterapkan pada perairan dangkal maupun
dalam. Selain itu juga dapat diterapkan pada saluran yang memiliki badan air
yang besar. Kemudian kekurangan dari metode ini adalah bola pingpong
terpengaruh oleh angin, gangguan permukaan sehingga dapat menimbulkan kesalahan
pada saat pengukuran. Metode selanjutnya adalah Rectangular Weir Method, dengan kelebihannya adalah tidak
membutuhkan banyak pengukuran dan tidak terpengaruh oleh konstanta perairan.
Sedangkan kekurangannya adalah sulit dalam mengukur ketinggian air saat
dibendung dan adanya air yang lolos saat
dibendung, serta kurang praktis karena harus membuat weir terlebih dahulu
dengan bahan yang sesuai. Metode terakhir adalah 90o Triangular Notch Weir, kelebihannya
adalah tidak memerluakan banyak pengukuran dan tidak terpengaruh oleh konstanta
perairan serta data yang diperoleh lebih teliti dan aakuran karena
prinsip-prinsip hidrolika dapat diterapkan, namun kekurangan metode ini sulit
saat mengukur ketinggian suatu perairan (Sastrodarsono,1995).
Penjelasan
mengenai kelebihan dan kekurangan dari masing-masing metode dapat dijadikan
dasar dalam mempraktikan metode ini dilapangan. Penjelasan mengenai kelebihan
dan kekurangan dari masing-masing metode, seperti Embody’s Float Method cocok digunakan pada perairan yang mengalir
dengan pengaruh angin yang kecil, karena kecepatan arus di sungai dapat memungkinkan
pengukuran dengan metode ini. Rectangular
Weir Method cocok digunakan pada perairan kecil dan tidak efektif pada
perairan yang luas karena harus membendung aliran sungai. 90o Triangular Notch Weir cocok digunakan
pada perairan yang kecil seperti selokan karena metode ini dilakukan dengan
membendung aliran air. Meskipun bisa dilakukan pada daerah yang salurannya
besar namun dibutuhkan biaya yang besar untuk membangun weir (Sastrodarsono,1995).
Hasil
pengukuran dan pengamatan dengan menggunakan ketiga metode tersebut dapat
dikatakan bahwa Embody’s Float Method
adalah metode yang lebih efektif dalam pengukuran debit air pada perairan yang
besar, sedangkan un tuk pengukuran debit air pada selokan, 90o Triangular Notch Weir adalah metode yang
paling efektif dan paling benar karena tidak berpengaruh terhadap konstanta
suatu perairan serta lebar weir, dan nilai
perhitungan yang lebih teliti. Faktor yang mempengaruhi debit air pada 90o
Triangular Notch Weir ini adalah
tinggi celah weir, dengan demikian
setiap ketinggian celah yang dilewati air akan terjadi kenaikan debit. Sedangkan
faktor yang mempengaruhi debit air antara lain bentuk dan saluran perairan, kondisi
perairan dan kemiringan lahan.
Selain
ketiga metode yang dipraktikan diatas, metode yang dapat dilakukan dalam
mengukur debit air adalah Currentmeter
Method atau yang dikenal sebagai Metode Alat Ukur Arus. Currentmeter Method biasanya digunakan
untuk mengukur aliran pada air yang rendah. Alat ukurnya merupakan alat
pengukur kecepatan yang paling banyak digunakan karena memberikan ketelitian
yang cukup tinggi. Kecepatan aliran yang diukur adalah kecepatan aliran titik
dalam satu penampang aliran tertentu. Prinsip yang digunakan adalah adanya
kaitan antara kecepatan aliran dengan kecepatan putar baling-baling currentmeter. Dari kecepatan yang
didapatkan dari alat ukur arus, maka akan didapatkan debit pada suatu aliran
tersebut. Pengukuran debit pada aliran air ini (saluran/sungai) memerlukan 2
pengukuran yaitu luas penampang aliran dan kecepatan aliran. Pengukuran luas
penampang sungai dapat dilakukan dengan mudah apabila lokasi stasiun telah
ditetapkan, dan dilakukan pengukuran yang cermat tentang bentuk penampang
sungai di stasiun tersebut (Richards, 1998).
Praktikum
pengukuran debit air ini memiliki manfaat dalam bidang perikanan terutama
Manajemen Sumberdaya Perikanan dapat digunakan dalam mengatur distribusi air
kolam, kebutuhan oksigen untuk perairan, kebutuhan air untuk irigasi, serta
dapat digunakan untuk mengatur besar kecilnya aliran air yang masuk ke kolam.
Kesimpulan
Dalam
pengukuran debit air dapat menggunakan beberapa metode untuk mengukurnya.
Metode-metode yang dapat digunakan diantaranya adalah Embody’s Float Method, Rectangular
Weir Method, dan 90o Triangular
Notch Weir Method. Berdasarkan hasil pengukuran dan pengamatan metode yang
efektif untuk selokan besar yaitu Embody’s
Float Method dengan debit air sebesar 8.847 x 10-3
m3/s dan untuk
selokan kecil yaitu 90° Triangular Notch Weir Method dengan
debit air sebesar 0.396 x 10-3 m3/s.
Daftar
Pustaka
Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai. Universitas Gadjah Mada
Press. Yogyakarta.
Cholik. 1991. Jurnal Penelitian Perikanan.
Pusat Penelitian Perikanan. Dirjen Perikanan. Departemen
Pertanian. Jakarta.
Effendy, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius.
Yogyakarta
Hadiwigeno. 1990. Petunjuk Praktis
Pengelolaan Perairan Umum Bagi Pembangunan Perikanan.
Departemen Perikanan,
Badan Penelitian dan Pembangunan Perikanan. Jakarta. hal.80
Richards, P.R. 1998. Manual of Standard Operating Procedures for
Hydrometric Surveys in British
Columbia Resources
Inventory Committee. British Columbia University Press. Canada.
Sastrodarsono, Takasaki. 1995. Pengukuran
Topografi dan Teknik Pemetaan. PT Pradnoyo
Paramitha. Jakarta.
Uktosely, H. 1991. Beberapa Aspek Fisika Laut
dan Perannya dalam Masalah Pencemaran.
Publishing LIPI.
Bogor.

Las Vegas' Wynn Casino - JTM Hub
BalasHapusCasino. Wynn is a $4 casinosites.one billion www.jtmhub.com resort with four hotel towers with 5,750 rooms and poormansguidetocasinogambling suites. https://sol.edu.kg/ Each of the hotel kadangpintar towers includes a 20,000 square foot casino and a